Kemenkes Bantah Ada Kebocoran Data Masyarakat di Sistem e-HAC

Minggu, 5 September 2021 22:00 WIB

Share
(Ilustrasi/Foto: cso-online)

GERBANG JAKARTA. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anas Maruf, dalam keterangan resminya  memastikan data di dalam sistem electronic Health Alert Card (e-HAC) tidak bocor dan masih dalam perlindungan.

“Data masyarakat yang ada di dalam e-HAC tidak mengalir ke platform mitra (pihak ketiga),” kata Anas, Sabtu (4/9/2021).

Sedangkan yang ada pada platform mitra menjadi tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik sesuai dengan amanah UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Juga sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Lebih lanjut Anas menjelaskan, Informasi adanya kerentanan pada platform mitra e-HAC (pihak ketiga) atau yang dilaporkan oleh VPN Mentor dan telah diverifikasi oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) diterima oleh Kemenkes pada 23 Agustus 2021.

Kemudian Kemenkes melakukan penelusuran dan menemukan kerentanan tersebut pada platform mitra. Kemudian Kemenkes langsung melakukan tindakan dan kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan pada sistem tersebut.

Sebagai bagian dari mitigasi risiko keamanan siber, maka Kemenkes telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, BSSN, serta Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri untuk melakukan proses investigasi.

Ini untuk menelusuri dan memastikan bahwa tidak ada kerentanan lain yang bisa digunakan untuk mengeksploitasi sistem e-HAC PeduliLindungi. Anas mengatakan pihaknya mengimbau masyarakat untuk menggunakan aplikasi pedulilindungi.

“Fitur yang terbaru sudah terintegrasi di dalamnya. Platform PeduliLindungi ini tersimpan di pusat data nasional dan sudah dilakukan oleh BSSN yaitu IT Security Assessment,” kata Anas.

Kementerian Kesehatan, lanjutnya, mengajak kepada seluruh masyarakat dan stakeholder untuk memanfaatkan dan menjaga terhadap penggunaan sistem informasi yang terkait dengan pengendalian pandemi COVID-19.

Juru Bicara BSSN Anton Setiawan mengatakan apa yang terjadi bukan terkait dengan kebocoran data namun bagian dari proses. “Ini adalah bagian dari proses, kalau di keamanan siber kita mengenalnya sebagai threat information sharing, di mana pihak-pihak yang mempunyai konsen terhadap keamanan siber saling bertukar informasi,” katanya.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler