Pemimpin Perempuan Lebih Sukses Kendalikan Covid-19!

Sabtu, 24 Juli 2021 12:30 WIB

Share
Para pemimpin perempuan (searah jarum jam dari kiri atas): Jacinda Ardern (Selandia Baru), Tsai Ing-wen (Taiwan), Erna Solberg (Norwegia), Angela Merkel (Jerman) dan Mette Frederiksen (Denmark) (Foto: BBC)

GERBANG JAKARTA. Kepemimpinan perempuan di era pandemi dikulik oleh sejumlah peneliti. Hasilnya, banyak di antara mereka yang mendapat rapor bagus.

Pada awal pandemi, para pemimpin negara seperti Jacinta Ardern (Selandia Baru), Tsai Ing-wen (Taiwan), dan Sheikh Hasina (Bangladesh) dipuji karena mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap Covid dan berhasil mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Namun kaitan antara gender dan kebijakan kesehatan sebagian besar hanya berupa anekdot, sampai sekarang.

Namun studi terbaru di Brasil menunjukkan, seperti disitir dari berita BBC, perempuan dalam posisi pemimpin dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dalam pandemi, dibandingkan dengan laki-laki.

Para peneliti menemukan bahwa kota-kota yang dipimpin oleh perempuan di negara itu mencatat 43% lebih sedikit kematian dan 30% lebih sedikit perawatan di rumah sakit daripada kota-kota yang dipimpin oleh laki-laki.

Penjelasannya, kata mereka, terkait dengan pengadopsian langkah-langkah nonfarmakologis - seperti mewajibkan penggunaan masker dan melarang kerumunan - yang lebih cenderung diberlakukan oleh perempuan.

"Temuan kami memberikan bukti kausal yang kredibel bahwa kinerja pemimpin perempuan lebih baik daripada pemimpin laki-laki ketika menangani isu kebijakan global," tulis para peneliti.

"Hasil kami juga menunjukkan peran yang dapat dimainkan pemimpin lokal dalam membantah kebijakan buruk yang diterapkan oleh pemimpin populis di tingkat nasional."

Para peneliti mempersempit analisis mereka pada 5.500 kotamadya Brasil sampai 700 kota tempat terjadi persaingan ketat antara kandidat pria dan wanita pada pemilihan tahun 2016.

Hanya kota-kota tempat pemilihan digelar satu putaran yang diperhitungkan, yang berarti ukuran populasinya di bawah 200.000 penduduk.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler