Zombieing yang Lebih "Menyeramkan" daripada Ghosting

Rabu, 14 Juli 2021 09:30 WIB

Share
Dampak zombieing lebih parah daripada ghosting? (Foto: yourtango)

GERBANG JAKARTA. Setelah ghosting, friendzone, toxic relationship, dan masih banyak lagi istilah "gaul" dalam menggambarkan hubungan pria dan wanita, baru-baru ini muncul istilah unik lainnya yang disebut-sebut lebih bahaya daripada ghosting, yaitu zombieing.

Meski terdengar asing, sebenarnya zombieing ini sering dialami oleh sejumlah orang, barangkali termasuk Anda. Namun banyak yang tidak menyadari dan seringkali keliru menyebutnya sebagai ghosting.

Istilah zombieing berada di level yang lebih tinggi dari ghosting, sehingga banyak yang menganggap fenomena ini lebih menyeramkan.

Mengutip Cosmopolitan, zombieing merupakan kondisi ketika Anda benar-benar ditinggalkan oleh seseorang atau gebetan yang sudah memiliki hubungan dekat. Padahal Anda mengira bahwa hubungan yang terjalin merupakan sesuatu yang spesial.

Jika dipikir-pikir, bisa saja kasus tersebut dinamakan ghosting. Tetapi sebenarnya tidak, karena zombieing ini menunjukkan bahwa sosok yang meninggalkan itu dapat kembali hadir dan memulai komunikasi seperti dulu, tanpa disadari.

Jika fenomena ghosting saja dapat menimbulkan trauma tersendiri, maka zombieing berada satu level di atasnya dan terkadang lebih menyakitkan.

Pasalnya, Anda yang ditinggalkan tentu akan merasa bahwa si dia sudah tidak lagi memiliki ketertarikan pada Anda. Namun, beberapa saat kemudian, orang tersebut kembali masuk ke dalam kehidupan Anda, dan berusaha menjadi sosok yang menyenangkan seperti sebelumnya.

Jika seperti itu, Anda harus sadar bahwa ia telah menjadi zombie yang perlu diwaspadai. Bukan tidak mungkin ia akan kembali melakukan hal tersebut tanpa rasa bersalah atau pun permintaan maaf. Seorang zombie terkesan menyepelekan dan menganggap Anda akan selalu menerima kondisinya.

Bagi beberapa orang mungkin hal tersebut sulit dilakukan karena masih memiliki perasaan yang kuat meski telah ditinggalkan, lalu tiba-tiba mendapati orang tersebut kembali kepadanya. Dibandingkan melepasnya lagi, ia justru memilih untuk memaafkan.

Namun harus diingat bahwa sebelumnya Anda ditinggalkan tanpa sebab, jadi jangan sampai luluh hanya karena si dia kembali. Tanyakan dahulu motifnya untuk kembali. Apabila jawabannya kurang relevan, jangan memberinya kesempatan kedua. Jangan berkubang dengan kesalahan yang sama.

Editor: Admin Local
Contributor: Devana Dea
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler