Obituari: Perjalanan dr. Ashari, Sang Filantropi Betawi

Jumat, 2 Juli 2021 07:00 WIB

Share
Obituari: Perjalanan dr. Ashari, Sang Filantropi Betawi
dr. Ashari, dalam kesuksesannya tetap tampil sederhana (Foto: Dok. Gerbang Betawi)

GERBANG JAKARTA. Masyarakat Betawi kehilangan salah satu tokohnya yang humble dan peduli pada kaum dhuafa. Tokoh itu, dr. Ashari, meninggal dunia pagi ini, Jumat (2/7/2021) sekitar pukul 05.00, karena terpapar Covid-19.

Dokter yang bantir stir dan sukses menjadi pengusaha properti itu hingga akhir hayatnya masih menjabat sebagai Direktur Eksekutif Gerakan Kebangkitan (Gerbang) Betawi. Pria yang lahir di Jakarta pada 5 Mei 1953 juga pendiri media siber Gerbang Jakarta.

Lahir dan tumbuh di kawasan Polonia (Jalan Cipinang Cempedak), dr. Ashari menjadi simbol anak Betawi yang berjuang tak kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan. "Bapak ibu saya orang sederhana, bener-bener enggak kebayang saya bisa kuliah kedokteran yang biayanya mahal," cerita bapak dari tiga anak ini.

Perjuangannya untuk lulus menjadi dokter memang luar biasa. Ashari muda tak segan-segan berbisnis, salah satunya menjadi juragan becak. "Pokoknya luar biasa perjuangan saya untuk selesai kuliah, pernah nyaris di-DO gara-gara Bapak enggak sanggup bayar uang kuliah," cetus lulusan Fakultas Kedokteran YARSI ini.

Singkat cerita, sebagai dokter, Ashari sukses menangguk berkah dari banyaknya pasien di setiap tempat dia ditugaskan. Pasalnya, alih-alih pasang tarif mahal, dia justru lebih sering membebaskan pasien dhuafa yang tidak mampu bayar. Ada juga yang bayar pakai buah-buahan dan sayur-sayuran. "Saya enggak pernah pasang tarif," kisahnya.

Dari penghasilannya sebagai sebagai dokter "baik hati", Ashari pelan-pelan membangun klinik sendiri di kawasan Tangerang. Jumlah kliniknya yang dikelola sang istri pernah mencapai lima buah.

Bersamaan dengan itu, karirnya sebagai PNS di Dinas Kesehatan Tangerang juga melejit, bahkan sempat digadang-gadang sebagai calon Kepala Dinas Kesehatan. Maklum, Ashari pernah terpilih menjadi dokter teladan di Tangerang dan sebagai hadiahnya, berangkat haji ke tanah suci. Luar biasa girangnya dia saat itu.

Kesuksesan demi kesuksesan itu tidak membuat dr. Ashari pongah. Justru ia sedih karena belum maksimal dalam membantu sesama. Ia berpikir, alangkah enaknya jika menjadi pengusaha, tentu akan lebih banyak orang miskin yang dapat dia bantu. Nah, sejak itu mulailah ia "mencicil" membeli kavling tanah di beberapa kawasan di Tangerang.

Di atas tanah-tanah itu dia bangun perumahan, mulai dari kelas sederhana hingga real estate. Tak dinyana, profesi baru sebagai pengusaha properti ternyata mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Ashari yang selalu serius di tiap langkah yang dilakoni pun makin dikenal sebagai pengusaha properti. Proyek-proyeknya untung besar. Pekerjaan sebagai dokter dengan senang hati dia tinggalkan.

Banyak yang telah dibantu dr. Ashari dalam program pengentasan kemiskinan yang dilakukannya secara silent. Namun sebagai muslim yang rendah hati, dia tak pernah menyombongkan diri. "Orang lain enggak perlu tahu siapa yang pernah saya bantu, dan apa bentuknya. Kita jangan membantu, terus cerita ke sana ke mari," imbuhnya sambil tertawa, tawa khas yang renyah.

Halaman
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar