Sejarah Lapangan Banteng, Pernah Ditanami Tebu dan Jadi Terminal Bis Kota

Minggu, 27 Juni 2021 07:00 WIB

Share
Sejarah Lapangan Banteng, Pernah Ditanami Tebu dan Jadi Terminal Bis Kota
Lapangan Banteng yang sejuk, asyik untuk berolahraga. (Foto: RS)

GERBANG JAKARTA. Lapangan Banteng di Jakarta Pusat merupakan salah satu ikon Jakarta. Tempat yang sekarang jadi taman dan tempat olahraga ini punya sejarah panjang. Berikut ini adalah sejarah Lapangan Banteng mulai zaman Belanda sampai sekarang.

Tulisan ini diolah dari buku “Atlas Sejarah Jakarta” karya A. Heuken.

Pada masa Belanda tahun 1648, Lapangan Banteng dikuasai Anthony Paviljoen. Lahannya masih berupa rawa dan ladang. Berikutnya, petani Tionghoa pada 1657 membuka hutan, menanam sayur, tebu, dan menggarap sawah.

Nah, pada tahun 1800-an tempat ini jadi lokasi parade latihan militer Belanda.

Berikutnya pada 1828 lapangan ini dijadikan tempat untuk mencari hawa segar dan namanya menjadi lapangan Waterlooplein. Tempat ini juga dikenal dengan sebutan Lapangan Singa karena di lokasi ini terdapat tugu singa yang menjadi menumen kemenangan Belanada atas Prancis dalam pertempuran di Waterloo, Belgia.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1950, lapangan ini diganti namanya oleh Presiden Sukarno menjadi Lapangan Banteng. Lalu, pada 1963 dibuat Monumen Pembebasan Irian Jaya yang berdiri sampai sekarang. Pada 1970, bagian Tenggara lapangan sempat menjadi stasiun bis kota.

Saat ini lapangan Banteng kembali menjadi taman, tempat pameran dan penjualan flora, dan sesekali digunakan juga sebagai tempat penyelenggaraan pertunjukkan seni.

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar