Penelitian Geomorfologi, Dataran Rendah Jakarta Ada Sejak 5.000 Tahun Lalu 
Selasa, 22 Juni 2021 09:00 WIB
Share
Lapisan tanah Jakarta terdapat cekungan besar (Foto: Atlas Sejarah Jakarta, A. Heuken)

GERBANG JAKARTA. Dataran rendah Jakata tak ujug-ujug ada. Penelitian tentang terbentuknya dataran rendah Jakarta dilakukan oleh H.Th. Verstappen, seorang ahli geomofologi.

Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk lahan dan proses yang mempengaruhinya.

Dalam tesis yang dibuat H.Th. Verstappen pada 1953, dituliskan tentang taksiran usia dataran rendah Jakarta yang sudah mencapai 5.000 tahun atau terbentuk ketika zaman prasejarah. 

Menurut A. Heuken dalam buku Sejarah Jakartta (2018), wilayah Utara Jakarta antara Citarum dan Cisadane yang rendah itu merupakan tanah aluvial yang terbentuk sejak 5.000 tahun lalu. Bagian Utara sudah terbentuk lebih dahulu. Batas kedua kawasan dengan tebing yang miring itu ada di daerah Rawamangun, Setiabudi, dan Kalideres.

Lapisan tanah aluvial yang berbentuk kipas ini berasal dari pengunungan vulkanik Pangrango, Gede, dan Salak. Endapan ini terbawa air melalui sungai Cisadane, Angke, Citarum, Bekasi, dan Citarum.

Aluvial adalah jenis tanah yang terbentuk karena endapan. Lapisan aluvial yang berasal dari vulkanik gunung ini memiliki kesuburan yang tinggi untuk ditanami pepohonan.

Dalam penelitian memakai pemotretan udara, peneliti mendapatkan kesimpulan, telah terjadi perpindahan arah arus sungai. Efeknya membuat beting (timbunan pasir atau lumpur yang panjang) ikut bergeser. Hal ini disebabkan arus laut yag terus menerus ke arah Timur selama musim hujan.

Dalam buku Perkembangan Kota Jakarta, terbitan Pemda DKI Jakarta (1994) dituliskaan, karena Jakarta merupakan dataran rendah dan adanya sungai-sungai, maka daerah ini rentan terhadap bahaya banjir.