Kontroversi Jawil Jundil, Komunitas Pembasmi Kejahatan Asal Sleman

Selasa, 15 Juni 2021 10:00 WIB

Share
Kontroversi Jawil Jundil, Komunitas Pembasmi Kejahatan Asal Sleman
Peduli pada keamanan lingkungan, Jawil Jundil bertekad membersihkan jalanan dari kejahatan (Ilustrasi: I-tron)

GERBANG JAKARTA. Jika di Inggris ada Robin Hood, pahlawan jago memanah yang berjuang untuk masyarakat lemah. Nah, di Kabupaten Sleman ada Jawil Jundil (JJ) yang siap bertarung untuk membantu masyarakat menumpas perusuh di Sleman dan sekitarnya.

Kemunculan Jawil Jundil ini dalam beberapa hari terakhir memicu kontroversi. Respons masyarakat umumnya positif, namun karena Indonesia negara hukum, maka pemberantasan terhadap penjahat tentu tidak lepas dari aturan hukum dan peran aparat.

Pihak kepolisian setempat, selain mengapresiasi hadirnya Jawil Jundil, kabarnya juga sudah mengagendakan audiensi dengan komunitas ini, agar tidak terjadi salah sasaran dalam aksi yang mereka lakukan. Niat baik memang mesti diiringi dengan aksi-aksi yang baik pula. 

Munculnya komunitas semacam Jawil Jundil sebenarnya juga menjadi alarm bagi aparat yang selama ini dianggap kurang tegas terhadap pelaku kejahatan di jalanan.

Yogyakarta yang bersemboyan 'Berhati Nyaman' belakangan memang diuji dengan banyaknya aksi kejahatan jalanan yang meresahkan warga. Beberapa orang yang merasa peduli dengan masalah ini kemudian mendirikan JJ, perkumpulan bagi orang-orang yang peduli dengan masalah keamanan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan Yogyakarta, Sleman khususnya.

Jawil Jundil turun ke jalan, menyisir jalanan di Sleman dan sekitarnya untuk memburu para perusuh jalanan, dalam bahasa lokal disebut klitih. JJ bermarkas tak jauh dari Jalan Tajem, Sefan, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman. Anggotanya memiliki badan yang kekar dan berotot.

Kepada media lokal, Tribun Jogja, Koordinator Lapangan (Korlap) JJ, Guntur Irmanda Putra pernah menjelaskan bahwa JJ terbentuk karena keresahan masyarakat terhadap aksi klitih dan gangguan kantibnas lainnya.

Guntur juga merasa kecewa karena dalam praktiknya, hukum terhadap aksi jalanan dianggap kurang. Padahal terdapat korban dari aksi ini yang catat fisik atau bahkan hingga meninggal dunia.

Mayoritas anggota JJ tersebut adalah anak kolong atau keturunan tentara yang biasa di jalanan. Karena sudah lama di jalanan, seringkali mereka juga terpaksa menggunakan hukum jalanan. Hukum jalanan yang dimaksud bukan berlandaskan emosi sesaat, akan tetapi itu hanya digunakan di waktu-waktu tertentu agar para pelaku klitih merasa jera.

Saat ini JJ memiliki 14 anggota inti dan puluhan lainnya yang tersebar di berbagai wilayah. Anggotanya pun memiliki latar belakang beragam mulai dari supir, freelancer, hingga juragan parkir. Untuk patroli dilakukan secara acak tanpa ada jadwal. Hal ini untuk mengindari pelaku klitih tahu jejak para anggota JJ.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar