Ngaji Kubur, Tradisi Betawi yang Mulai Tergerus Zaman
Selasa, 1 Juni 2021 15:00 WIB
Share
Tradisi ngaji kubur untuk mendoakan almarhum atau almarhumah di Betawi (Foto: M Yazid)

GERBANG JAKARTA. Banyak aktivitas orang Betawi yang identik dengan tradisi Islami. Salah satunya, terkait dengan pengurusan jenazah ketika ada salah seorang keluarga yang wafat. Yang dikenal sebagai ngaji kubur. 

Sudah umum apabila ada yang wafat, dibuatkan acara tahlilan di rumah duka sebagai bentuk pengiriman doa. Namun, ada juga tradisi lain seperti mengaji di dekat area kubur atau makam yang juga bertujuan untuk mendoakan almarhum atau almarhumah. 

Biasanya, di lokasi kubur almarhum atau almarhumah didirikan tenda berukuran 3 x 3 meter. Tenda yang dilengkapi bale tersebut difungsikan untuk para petugas membaca Al-Quran dan rekan-rekannya. 

Petugas tersebut saling bergantian membaca Al-Quran selama 24 jam nonstop di hadapan makam. Siang maupun malam.  Personalia tim pengaji kubur juga berganti dengan tim lainnya setelah satu hari penuh mengaji Al-Quran. 

Untuk ukuran waktu berapa lama kuburan almarhum atau almarhumah ditemani tim pengaji Alquran sangat bervariasi. Bisa sampai 3 hari, 7 hari, satu bulan, bahkan hingga 40 hari. 

Pemandangan orang sedang ngaji kubur ini kerap terlihat di area pemakaman keluarga warga Betawi. Orang-orang berseragam baju koko dan berserebet kain tampak berkumpul di area makam, satu orang bertugas mengaji sedangkan yang lain saling bercengkarama, bahkan ada pula yang tidur. 

Di makam KH A Syarifuddin Abdul Ghoni MA Basmol misalnya. Sejak malam pertama pasca pemakaman beliau pada Kamis (27/5/2021), hingga malam ke- 40 sudah disiapkan jadwal untuk ngaji kubur. 

"Kami siapkan jadwal kepada para keluarga atau para murid-muridnya, Insyaallah sampai 40 hari. Silahkan untuk berpartisipasi mengambil jadwal ngaji kubur dan mengambil keberkahan guru mulia," kata Ustadz A Fathi Isa, Koordinator ngaji kubur makam KH A Syarifuddin Abdul Ghoni MA Basmol, Selasa (1/6/2021). 

Biasanya, setiap keluarga atau kelompok pengajian yang ingin berpartisipasi akan mengisi jadwal pengajian sesuai waktu yang tersedia dan tidak mengganggu aktivitas mereka. Tapi, jika masih ada jadwal hari yang kosong, pihak sohibul musibah bisa mengundang kelompok pengajian untuk dapat mengisinya. 

Menurut Ustadz Fathi, umumnya setiap kelompok ngaji kubur minimal terdiri dari empat orang yang mengaji Al-Quran selama 24 jam secara bergantian. "Bisa setiap dua jam sekali saling bergiliran mengaji, dan ketiga orang lainnya menemani rekan yang sedang membaca Alquran," kata dia. 

Halaman
1 2
Berita Terpopuler