AstraZeneca di Inggris, 7 Orang Meninggal Akibat Pembekuan Darah

Selasa, 6 April 2021 08:59 WIB

Share
AstraZeneca di Inggris, 7 Orang Meninggal Akibat Pembekuan Darah

GERBANG JAKARTA. Semua negara tengah menghadapi virus corona. Termasuk Inggris, yang tengah fokus memberikan vaksin kepada masyarakatnya. 

Mengutip the Straits Times, Selasa (6/4/2021), dalam kasus pemberian suntik vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca, diketahui 7 warga Inggris meninggal karena mengalami pembekuan darah setelah vaksin. Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris (MHRA) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "Dari 30 laporan hingga 24 Maret, 7 telah meninggal."

Laporan kasus pembekuan darah tersebut muncul setelah program vaksinasi yang sudah diberikan sebanyak 18,1 juta dosis kepada masyarakat Inggris. MHRA melansir 22 kasus penerima vaksin covid-19 AstraZeneca mengalami pembekuan langka yang disebut trombosis sinus vena serebral.
Sementara 8 kasus lain menunjukkan, penerima AstraZeneca mengalami trombosis diiringi tingkat trombosit darah rendah, yang membantu pembekuan darah. Sedangkan masyarakat penerima vaksin Pfizer-BioNTech, tak ada yang dilaporkan mengalami pembekuan darah. "Tinjauan menyeluruh terhadap laporan ini sedang berlangsung," demikian pernyataan MHRA.
Namun Kepala Eksekutif MHRA June Raine masih menekankan bahwa manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih besar daripada risikonya. "Masyarakat harus terus mendapatkan vaksinnya jika diundang," katanya.
Seiring dengan laporan tersebut, seorang pakar medis telah meminta penelitian lebih lanjut tentang vaksin AstraZeneca. Berbicara di program Radio 4's Today, Paul Hunter, Profesor Kedokteran di Universitas East Anglia, mengatakan "Jelas lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan" untuk membangun hubungan yang jelas antara vaksin dan pembekuan darah.
Ketika ditanya apakah pembekuan darah itu kebetulan atau tidak, Prof Hunter mengatakan masih terlalu dini untuk menjawab. Prof Hunter mengatakan, kemungkinan kematian akibat virus corona jika tidak mendapatkan vaksin "berkali-kali lebih besar" daripada risiko kematian akibat pembekuan darah setelah divaksin. Sang profesor juga mengatakan komunitas medis harus segera mendapatkan "analisis kasus yang tepat".
Prof Hunter juga memberikan pendapatnya tentang negara-negara Uni Eropa yang melarang sementara pemberian vaksin kepada orang-orang yang lebih muda.
Reporter: Renny Sundayani
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar