Ada 317 Aliran Silat Betawi di Jakarta dan Sekitarnya

Senin, 15 Februari 2021 08:30 WIB

Share
Ada 317 Aliran Silat Betawi di Jakarta dan Sekitarnya

GERBANG JAKARTA. Etnis Betawi berdiam dan tinggal di Jakarta dan seputarannya. Budayanya terbentuk dari hasil akulturasi berbagai suku bangsa. Melalui proses panjang penyerapan dari beragam budaya dan hasil olah kreatif orang Betawi sendiri, lahirlah kemudian beragam aliran pencak silat.

Orang Betawi menyebutnya dengan istilah maen pukulan Betawi. Dalam buku Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi karya GJ Nawi, dituliskan adanya 317 aliran maen pukulan Betawi. Sebarannya luas, mulai dari Betawi Pesisir (Foreland), Betawi Tengah (Midland), hingga Betawi Pinggir dan Udik (Hinterland).

Apa itu silat Betawi? Menurut GJ. Nawi, orang Betawi mengaitkan maen pukulan sebagai permainan yang melibatkan kontak fisik, serang bela dengan atau tanpa senjata. Di dalamnya terdapat unsur bela diri. Konteks kata maen punya makna di dalamnya ada unsur kesenangan. Dikatakan maen pukulan karena di dalamnya didominasi unsur pukulan. Filosofi maen pukulan memang menabukan main kaki atau tendangan. Kalaupun ada, tendangan hanya sebatas pusar ke bawah.

Dari 317 aliran silat itu ada aliran silat yang terkenal, yaitu beksi.  Silat beksi awalnya dikembangkan oleh masyarakat dari Kampung Dadap, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Aliran silat ini diciptakan oleh Lie Tjeng Hok (1854-1951). Pria keturunan Tionghoa ini mengkolaborasikan ilmu beladiri keluarganya dengan ilmu dari guru-guru silat Betawi. Lalu, ilmunya diajarkan kepada para muridnya orang Betawi pesisir dan orang Tionghoa di sekitar Kampung Dadap. Berikutnya, silat Beksi menyebar ke daerah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, dan daerah Batujaya, Batuceper, Tangerang. Dalam praktiknya, silat Beksi memiliki 12 jurus dasar dan masing-masing memiliki pecahannya. Walaupun memiliki perbedaan nama-nama dan urutan jurus, setidaknya ada 3 jurus dasar yang sama nama dan urutannya, yaitu beksi, gedig, dan tancep. Silat Beksi bisa dikatakan memadukan antara seni, keindahan, ketepatan, dan kecepatan memukul dengan gerakan sikut yang keras.

Berikutnya, ada aliran silat cingkrik yang lahir di Rawabelong, Jakarta Barat. Silat ini diciptakan Ki Maing (Ismail bin Muayad) pada 1920-an. Silat Betawi ini kini menyebar ke berbagai penjuru Jakarta. Berdasarkan referensi, silat Cingkrik diciptakan oleh Ki Maing sekitar tahun 1920-an. Aliran silat ini lahir setelah Maing mendapat inspirasi untuk menciptakan aliran silatnya sendiri, setelah memperhatikan gerak-gerik seekor monyet yang cepat dalam menghindar dan menyerang. Gerakan serangan yang cepat dan gesit inilah yang menjadi ciri khas dari  jurus silat Cingkrik.

Selanjutnya, ada aliran silat Sabeni berasal dari Tanah Abang. Nama aliran ini mengacu pada nama seorang pendekar abad 19. Pendekar Sabeni lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala, Tanah Abang. Sabeni dikenal luas setelah mengalahkan salah satu jawara di daerah Kemayoran. Lalu, melamar putri jawara yang akhirnya menjadi istri Sabeni. Jurus silat Sabeni sohor lantaran memiliki kecepatan dan kepraktisannya. Salah satunya, permainan silat  yang rapat dan gerak tangan yang sangat cepat.  JIka ditelisik lebih dalam aliran silat Sabeni mengutamakan gerakan penyerangan dan tidak memiliki kembangan serta murni untuk beladiri.

 

Reporter: Rachmad Sadeli
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar